TARI TOPENG CIREBON
Terlahir dari sebuah konsep Adhiluhung
Catatan : Handoyo MY.
Sebuah perjalanan dalam renungan akan keindahan kesenian
Cirebon melahirkan sebuah catatan yang ”belum terselesaikan”, ketika menelusuri
jejak-jejak tari topeng Cirebon dalam permulaan dari penciptaan gerak-gerak
indah yang diungkapkan Kanjeng Sunan Kalijaga hingga melahirkan 5 (lima)
karakter tarian topeng Cirebon.
Kesenian Cirebon
yang diwariskan secara tradisi (turun menurun), merupakan karya-karya
adhiluhung yang lahir dari keindahan spiritual orang-orang pilihan Allah.
Dimana kesenian Cirebon merupakan pencerminan dari kehidupan manusia di alam
bathin yang hidup dalam kehidupannya yang hakiki. Disinilah letak rahasianya,
sehingga didalam melestarikan keutuhan karya-karya seni dahulu yang kita
warisi, diupayakan kemurniannya tetap terjaga. Karena dari karya-karya seni
yang adhiluhung inilah, tersimpan mutiara-mutiara yang bercahaya yaitu “ilmu
mengenai kebenaran tentang keindahan” yang apabila terungkap, maka karya-karya
seni di Cirebon akan berkembang dengan pengembangan yang tiada batas, dan
dengan tidak merusak karya-karya seni adhiluhung yang dilahirkan para wali
Allah.
Rahasia kesenian,
tersembunyi dibalik pengetahuan serta teorinya. Dan teori dilahirkan dari
sebuah rumusan yang merupakan “perwujudan” dari makna spiritual, yang
terkandung di dalamnya. Kemudian dari sini lantas kita bertanya, bagaimana
bentuk rumusannya sehingga teori kesenian dapat dilahirkan. Inilah hal yang
sangat penting yang harus diketemukan. Karena dengan ditemukannya
rumusan-rumusan tersebut, maka karya-karya seni yang baru akan lahir dan
berkembang dengan tanpa batas. Dan karya-karya seni dari para wali Allah pun,
tetap terjaga kelestariannya.
Jadi pelestarian visual serta pengetahuan dan teori kesenian
adhiluhung yang tetap terjaga kemurniannya, adalah kunci untuk mengembangkan
hasil karya-karya baru yang indah, ketika telah terungkap mengenai
kebenarannya.
Di
Cirebon ada beberapa jenis Kesenian yang termasuk ke dalam Kesenian Adhiluhung
diantaranya yaitu : Wayang Kulit, Barongan/Berokan, Topeng, dan Ronggeng/Tayub.
Dan ini diisyaratkan dalam transkripsi 7375 yang terdiri dari 41 buah Suluk
dari daerah Cirebon (Menurut Pigeaud, bahwa naskah ini terdiri dari 181
halaman, berukuran 22 x 35 x 1cm berbahasa Jawa, berbentuk puisi dan
isinya mengenai mistik. Puisi-puisi ini disusun / disalin / dihimpun oleh
Sultan Adijaya dan penghulu bernama Abdul Kahar dari Cirebon, dan diperlihatkan
kepada Snouck Hurgronje oleh patih Bratawijaya pada tahun 1896 dengan sepuluh
Surat berbahasa Sunda / Pigeaud, II, 1967 : 424. Salinan tersebut mulai disalin
pada tahun 1891 dan termuat dalam manuskrip / KBG No: 66 ; sebuah salinan lagi
dibuat tahun 1876 pada daun lontar / palmeaf dari manuskrip milik Pangeran Raja
Keprabonan Cirebon / Dr. Simuh, Suluk The Mystical Poetry of Javanese Muslims,
hlm ; 1)
. Suluk
Topeng terdiri dari 18 Suluk dalam bentuk pupuh Pucung, yang dua diantaranya
yaitu bait pertama dan kedua, penulis mencoba untuk menterjemahkan berdasarkan
pemahaman pribadi seperti dibawah ini.
Suluk Topeng
Pucung
1.
Topeng angleger
sedheng mangsané bedug,
dénya mung
paésan.
Hakékat kang
sebeneré,
sinawang Cipta
adhining petopéngan.
Terjemahan :
Kedhok yang
dipakai (Dhalang Topeng) dikala saat tarian berlangsung,
sesungguhnya
hanya hiasan.
Hakekat yang
sebenarnya,
tersirat dalam
ungkapan luhurnya gerak tarian topeng.
2.
Ya dhalangé ya
wayangé dénya nengguh,
ora nana liyan.
Mung masi (h) aling-alingé,
aning rerai kedhok pinangka wrana.
Terjemahan :
Ya dhalangnya
ya wayangnya nyata terkesan,
tidak ada yang
lain (hanya satu wujud).
Tetapi masih
ada penghalangya,
kedhok di wajah
merupakan halangan (dalam penyatuan).
Topeng sebagai
perlambang hakekat ditegaskan dalam Suluk bait ke dua, dimana hijab yang
membatasi jarak antara hamba dan Tuhan dilambangkan hanya sebatas muka yang
tertutup kedhok. Sedangkan yang dimaksud pada bait ke satu, yang pertama adalah
: Kedhok hanya hiasan apabila gerak tari tidak berada di dalamnya (kata
sandi dari hiasan : hidup yang dihidupkan).
Dan tidak ada kehidupan pada kedhok walaupun ia hidup
karena gerak tari, apabila dhalang topeng tidak menggerakkan gerak tariannya.
Sedangkan dhalang topeng / penari tidak dapat
menggerakkan gerak tariannya kalau tidak karena Allah.
Disini artinya bahwa :
Kedhok
= Jiwa
Gerak
tari
= Roh
Dhalang topeng = Roh Idhofi/Nyawa.
Sedangkan yang ke dua bahwa, tari Topeng Cirebon terlahir dalam sebuah konsep
adhiluhung, dimana gerak-gerak yang indah di dalam tarian Topeng Cirebon,
mencerminkann makna dari kehidupan yang hakiki.
Keluhuran gerak tarian topeng adalah merupakan perwujudan bentuk-bentuk
nafsu/keadaan jiwa yang bergejolak untuk mewujudkan dirinya, tatkala mengarungi
kehidupannya dalam menjalankan perintah yang dianjurkan Allah SWT.
Disini dapat disimpulkan bahwa : „ Tari adhiluhung adalah
tari yang mempunyai nilai-nilai luhur yang berlatar belakang agama, dimana
gerak-gerak indah yang tertata dalam tarian itu, mencerminkan arti dari
kehidupan yang hakiki ”. Dan ini menurut hemat penulis, pengertian tari
adhiluhung artinya sama dengan tari klasik. Karena tari adhiluhung
mempunyai pola dengan standar gerak yang baku, sebagaimana tari klasik.
Konsep terlahirnya 5 jenis Tari Topeng Cirebon yang biasa
disebut Topeng Babakan, pada tiap-tiap jenis tariannya terpola dalam dua fase
yang pertama adalah, gerak tarian ”baksa - rai” (gerak tarian yang tidak
memakai kedhok). Kedua, gerak tarian ”rerai - kedok” (gerak tarian yang memakai
kedhok).
Ciri-ciri ini menunjukan perbedaan apabila di bandingkan
dengan ”Topeng Lakon”. Disinilah letaknya bahwa, 5 tarian topeng Cirebon
dilahirkan Kanjeng Sunan Kalijaga yang digunakan sebagai media syiar Islam di
Jawa Barat.
Topeng Lakon di dalam membawakan cerita Panji, sang penari langsung memakai
kedhok. Sedangkan dalam topeng babakan (5 tarian pokok), sang penari tampil
dengan tidak langsung memakai kedhok. Topeng Lakon menceritakan kehidupan di
alam dhohir. Sedangkan Topeng Babakan menceritakan tentang kehidupan di alam
bathin.
Gerak tarian baksa - rai di dalam topeng babakan, menceritakan proses
perjalanan spiritual untuk mendekat kepada Allah. Sedangkan gerak tarian rerai
- kedhok, menceritakan tentang kehidupan ketika telah mencapai titik-titik
kesempurnaan (jiwa) yang bertingkat-tingkat, sebagaimana yang di gambarkan
dalam 5 karakter kedhok pada tari topeng Cirebon. Dan pencapaian titik-titik
kesempurnaan tersebut, ditengarahi ketika sang dhalang / penari rerai - kedhok.
Tari Topeng Cirebon tidak lepas dari karawitan (gamelan). Di dalam pengetahuan
dan teori karawitan, terdapat istilah ” kempyung ” yang merupakan „roh” di
dalam laras gamelan.
Dan apakah di dalam pengetahuan tari adhiluhung, istilah
yang pengertiannya sama dengan kempyung masih tersembunyi ?
Adanya kehidupan di dalam laras
gamelan, karena adanya keseimbangan sejumlah nada kempyung di dalam laras. Dan
keseimbangan sejumlah nada kempyung tersebut menghidupkan laras gamelan, karena
nada-nada kempyung adalah nada yang dicahayai sifat-sifat Allah dan Muhammad.
Pengertian nada di dalam karawitan, sejajar dengan „ bentuk gerak ” di dalam
tari Topeng Cirebon. Kalau di dalam karawitan (Cirebon) ada istilah nada laras,
nada miring, nada sanga, nada sepulu, dan nada blong, bentuk-bentuk gerak tari
Topeng Cirebon yang manakah yang sejajar dengan nama-nama nada yang disebutkan
di atas?
Berbicara tentang kesejajaran antara
nada dan bentuk gerak dalam kebenaran, akan berbicara pula tentang kebenaran
dalam kehidupan yang hakiki.
Nada dan bentuk gerak adalah ruh. Dan kehidupan ruh di
alam bathin, itulah makna dari kehidupan yang hakiki. Inilah konsep adhiluhung
yang di ungkapkan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Ilmu Keindahan. Baik keindahan
gerak, keindahan nada, keindahan garis dan warna, keindahan kata, dan atau
keindahan-keindahan kesenian yang lainnya.
Keindahan
suasana nada dalam gendhing, merupakan perwujudan dari keadaan jiwa di dalam
laras gamelan. Dan perbedaan suasana gendhing di dalam laras gamelan, dalam
makna musikal istilahnya disebut Patut / Pathet. Sedangkan patut/pathet dan
juga beberapa unsur karawitan Cirebon yang lainnya, dalam makna spiritual, penulis
ungkapkan secara ringkas dalam sebuah Abstraksi Filosofi Dimana gamelan
adalah salah satu jenis makhluk yang diciptakan Allah SWT. Dan ini tersirat di
dalam kitab suci Al-Qur’an.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua
yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan
bertasbih dengan memuji Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyantun dan Maha Pengampun.”
( QS. 17. Al-Israa : 44 )
Gendhing dalam ukuran Pathet, merupakan perwujudan dari “bentuk nafsu” yang
terselubung di dalam Laras gamelan. Di mana gendhing-gendhing dalam ukuran
pathet ini, masih dalam bentuk-bentuk gendhing yang belum di ungkapkan nyata
oleh Laras-laras gamelan. Sehingga diketahuinya keadaan jiwa dari ragam bentuk
gendhing-gendhing surupan, dapat diketahui secara nyata ketika
gendhing-gendhing dalam ukuran pathet tersebut, dilantunkan Laras-laras gamelan
sempalan yang difungsikan sebagai Larasan Alit. Sejumlah laras sempalan di
dalam Larasan Alit, merupakan perwujudan dari keadaan-keadaan jiwa laras
gamelan. Dan suasana gendhing pada tiap-tiap laras gamelan sempalan, merupakan
perwujudan dari keadaan-keadaan jiwa laras sempalan. Sedangkan suasana gendhing
ketika di lantunkan suatu laras gamelan sempalan, merupakan perwujudan dari
bentuk nafsu yang ada di dalam laras gamelan. Yang dalam makna musikal, suasana
gendhing yang berbeda pada tiap-tiap laras sempalan, dibedakan melalui
perbedaan nada dasar patutnya.
Nada dasar pathet dan Patut adalah nada-nada kempyung yang merupakan “roh” di
dalam Surupan dan Laras Nada. Dimana nada kempyung inggil, merupakan nada yang
dicahayai sifat-sifat Allah, sedangkan nada kempyung andap merupakan nada yang
dicahayai sifat-sifat Muhammad. Jadi Kempyung (roh di dalam surupan dan
Laras Nada), dapat diartikan sama dengan Ruh.
Ada jiwa berarti ada kehidupan, dan adanya kehidupan karena di dalam jiwa ada
ruh yang membuatnya hidup. Ruh ditiupkan Allah ke dalam jiwa, sama seperti
halnya Allah meniupkan kempyung kedalam Laras Nada, yang menjadikan kempyung di
dalam Laras Nada tersebut bertahap menjadi berjarak dalam keseimbangan dua
kempyung, tiga kempyung dan seterusnya hingga membentuk Surupan / Laras yang
dikehendaki Nya.
Disini artinya
bahwa “Ruh” yang berada di dalam laras gamelan berlapis dalam 3 istilah yaitu :
1.
Laras
= Jiwa
2.
Surupan
= Roh
3.
Kempyung
= Ruh
Jadi, laras
gamelan yang tidak mempunyai nada-nada kempyung (dalam keseimbangan), sama
artinya dengan manusia hidup yang tidak berkehidupan. Itulah sebabnya maka,
nada-nada kempyung yang seimbang didalam laras gamelan, berkedudukan sebagai
nada-nada dasar pathet atau patut pada gendhing / lagu, sebagaimana yang
digambarkan dalam skema Rumus Pathet dan Patut. Dan karena itu maka,
tanda-tanda kehidupan yang nyata di alam dhohir pada laras gamelan, dapat di
tengarahi melalui adanya ngalih patut / ngalih laras / modulasi.
Peralihan patut pada laras gamelan, sama seperti halnya ketika Allah
membolak-balikan hati manusia. Dan ngalih patut bisa terjadi, karena adanya
keseimbangan sejumlah kempyung di dalam laras gamelan, sebagaimana keseimbangan
jiwa / roh pada manusia. Itulah sebabnya maka, bunyi kendang didalam perangkat
gamelan (Cirebon), dilaras selaras dengan laras gamelannya.
Surupan disebut “jiwa” apabila Laras telah melebur, dan surupan berkedudukan
sebagai Laras.
Laras disebut
roh (surupan), karena laras pun merupakan wilayah nada yang diduduki gendhing.
Ini dapat dilihat dari uraian mengenai kesimpulan laras pelog yang
wilayah nadanya meliputi 7 nada seperti di bawah ini.
Contoh : Tujuh nada di dalam perangkat gamelan pelog,
disebut Laras (Pelog). Dan gendhing di dalam gamelan pelog, diantaranya ada
yang wilayah nadanya meliputi 7 nada.
Surupan, merupakan wilayah nada yang diduduki oleh gendhing. Jadi, pengertian
Laras artinya sama dengan surupan (jiwa artinya sama dengan roh).
Gendhing merupakan perwujudan dari bentuk-bentuk nafsu yang ada di dalam laras
gamelan, yang dalam makna musikal (Cirebon) disebut gendhing-gendhing surupan /
gendhing-gendhing dalam ukuran pathet. Sedangkan gendhing dalam ukuran patut /
gendhing larasan, merupakan perwujudan nyata dari gendhing dalam ukuran pathet.
Dan suasana gendhing yang berbeda-beda di dalam laras gamelan, karena
dipengaruhi oleh “keadaan jiwa” laras gamelan dalam sejumlah tingkatan tertentu
(keadaan jiwa pada laras gamelan pelog Cirebon, terdiri dari 7 macam yakni :
Laras Si Centing, Si Kacang, Si Prada, Asmaroneng, Si Ropo, Si Gadhing, dan
Laras Genggong).
Roh dalam kehidupannya di alam bathin, melahirkan bentuk-bentuk
nafsu yang bergejolak untuk mewujudkan dirinya. Dan tatkala bentuk nafsu yang
bergejolak sudah tidak dapat dikendalikan lagi, maka jiwa nampak dalam
perwujudannya ketika gejolak nafsu yang berada di dalam diri manusia, wujud
dalam bentuk sikap, perilaku, dan perbuatan / tindakan.
Bentuk expresi jiwa yang mewujudkan bentuk-bentuk nafsu, nampak dari keadaan
jiwanya yang memancarkan karakter dari makhluk pada maqam / kedudukan dalam
tingkat spiritual tertentu.
Di sini dapat
diartikan bahwa karakter adalah “tingkatan jiwa” (tingkatan jiwa laras gamelan
Cirebon antara lain : laras gamelan Khodok Ngorek, gamelan Slendro, dan gamelan
Pelog).
Diatas telah diutarakan bahwa, laras disebut roh karena laras sama dengan
surupan. Dan yang dimaksud dengan “laras” di sini adalah Laras Nada yang berada
di dalam Laras Gamelan.
Dari apa yang
telah diuraikan di atas, maka dapat di artikan bahwa:
- Laras artinya
tidak sama dengan surupan
- Laras artinya
sama dengan surupan
Dan kalau kita bercermin
pada gamelan, maka pengertian Roh dan Jiwa ialah :
- Roh tidak sama
dengan jiwa
- Roh sama dengan
jiwa
Laras adalah kesatuan nada yang terbentuk dari sejumlah nada kempyung dalam keseimbangan.
Kempyung adalah
roh di dalam Surupan dan Laras Nada. Sedangkan surupan dan Laras Nada adalah
roh di dalam Laras Gamelan. Jadi Laras dan surupan artinya sama dengan
Kempyung.
Kempyung sama dengan laras. Dan kempyung merupakan perpaduan dua nada. Disini
artinya bahwa kempyung pengertiannya sama dengan nada. Kalau laras sama dengan
kempyung, dan kempyung sama dengan nada, maka pengetian laras sama artinya
dengan nada (laras, surupan, kempyung, dan nada, adalah ruh yang berada di
dalam gamelan). Itulah sebabnya maka (sebutan) “Laras” di dalam karawitan Jawa,
di gunakan sebagai istilah untuk menyebut satuan nada dan kesatuan nada (roh
sama dengan jiwa).
Dalam karawitan Cirebon, pengertian laras tidak sama dengan nada, dan juga
tidak sama pula dengan surupan. Disini artinya bahwa, pengertian roh tidak sama
dengan jiwa.
Kedudukan nada di dalam Ragam Jenis Laras Nada yang jumlahnya tidak terhingga,
belum nampak kedudukannya sebelum Allah meniupkan kempyung kedalamnya.
Allah
menciptakan manusia (setelah Nabi Adam), melalui manusia yang
berpasang-pasangan (sebagai suami istri).
Dan Allah
menciptakan perangkat gamelan, melalui manusia yang Dia pilih untuk
“melahirkan” gamelan yang Dia kehendaki.
Janin di dalam kandungan seorang ibu, bisa hidup karena Allah meniupkan roh ke
dalam jiwanya.
Begitupun
nada-nada Laras di dalam Laras Gamelan, bisa hidup karena Allah meniupkan
nada-nada kempyung ke dalamnya. Sehingga sejumlah nada-nada kempyung di dalam
Laras Gamelan tersebut, berjarak dalam keseimbangan dua kempyung, tiga
kempyung, empat kempyung, dan seterusnya.
Bayi meninggal di dalam kandungan sebelum dilahirkan, karena kehendak dan
kekuasaan Allah. Begitupun janin-janin Laras Gamelan yang telah wujud dalam
bentuk saron misalnya, tidak akan lahir dalam bentuk perangkat gamelan, apabila
tidak dikehendaki Allah. Karena Allah Maha Berkuasa dalam Penciptaan apa yang
Dia kehendaki. Allahu alam ............................................
Baiklah, dibawah ini adalah sekelumit
tentang gambaran latar belakang spiritual dari 5 tarian pokok tari Topeng
Cirebon yang dilahirkan Sunan Kalijaga.
1. Tari Panji
Kedhok yang dipakai dhalang topeng dalam tari Panji, adalah perwujudan dari
tingkat kesucian jiwa hamba-hamba Allah yang terpilih, tatkala mengarungi
kehidupannya dalam menjalankan perintah yang dianjurkan Allah yang menyangkut „
Kebenaran yang sebenar-benarnya benar ”. Dan orang-orang yang berada di
dalam tahapan ini disebut „ Wali ”.
Cahaya ketenangan jiwa yang ridho dan
diridhoi Allah, tercermin dalam kehalusan gerak-gerak indah yang merupakan
perwujudan dari bentuk-bentuk nafsu atau keadaan jiwa yang bergejolak di dalam
diri manusia.
Gemuruh gendhing yang riuh rendah dalam
tari Topeng Panji, mengiringi gerak-gerak indah yang menggambarkan kerinduannya
kepada Allah dalam menggapai penyatuan dengan-Nya. Dan ketika hijab yang
menghalangi dirinya sudah tidak ada lagi dengan sesungguh-sungguhnya, suatu
tanda bahwa ia telah mencapai Ma’rifat sejati. Dimana dari dua roh telah
menyatu dalam satu wujud.
2. Tari Pamindo
Kedhok yang
dipakai dhalang topeng dalam tari Topeng Pamindo, adalah cerminan dari tingkat
kesucian jiwa hamba Allah, tatkala mengarungi kehidupannya dalam menjalankan
perintah yang dianjurkan Allah yang menyangkut „Kebenaran yang
sebenar-benarnya ”. Dan orang-orang yang berada di dalam tahapan ini
disebut „ Irfan ” (orang-orang arif).
Keladak lungguhan yang tergambar pada
kedhok Pamindo, tercermin pada kelincahan geraknya yang merupakan perwujudan
dari bentuk-bentuk nafsu atau keadaan jiwa yang bergejolak didalam diri
manusia.
Gejolak api cintanya yang makin membara, mengharap buaian
kasih untuk lebih dicintai Allah. Kerinduannya makin menjadi tatkala dirinya
bersimpuh dengan kelembutan relung hatinya yang sangat dalam. Kini taman hijau
nan suci nampak dihadapannya, yang membuat dirinya makin berharap untuk lebih
dekat memandang Keindahan-Nya yang abadi.
3. Tari Rumyang
Kedhok yang
dipakai dhalang topeng dalam tari Rumyang, adalah cerminan dari tingkat
kesucian jiwa hamba Allah, tatkala mengarungi kehidupannya dalam menjalankan
perintah yang dianjurkan Allah yang menyangkut „ Kebenaran yang sebenarnya
”, dimana disebut „ kebijakan ”.
Keladakan yang lincah yang tergambar
pada kedhok Rumyang, tercermin pada kelincahan gerak tariannya yang merupakan
perwujudan dari bentuk-bentuk nafsu atau keadaan jiwa yang bergejolak di dalam
diri manusia.
Gejolak api cintanya yang jatuh kedalam
hati, menyebabkan ia bangkit untuk menjawab suara-suara Illahi. Kerinduannya
kepada Allah bergelora, ketika titik-titik noda hitam yang melekat didalam
hatinya makin memudar. Dan kini ia menyadari akan arti dari kehidupan yang
hakiki.
4. Tari Tumenggung
Kedhok yang
dipakai dhalang topeng dalam tari Tumenggung, adalah cerminan dari tingkat
kesucian jiwa hamba Allah, tatkala mengarungi kehidupannya dalam menjalankan
perintah yang dianjurkan Allah yang menyangkut „ kebenaran ”. Yang
disebut ilmu pengetahuan konseptual tentang sesuatu yang tidak nyata.
Kegagahan yang lungguh yang tergambar
pada kedhok Tumenggung, tercermin pada kegagahan gerak tariannya yang merupakan
perwujudan dari bentuk-bentuk nafsu atau keadaan jiwa yang bergejolak di dalam
diri manusia.
Gerak-gerak indah dalam tari Topeng
Tumenggung, menggambarkan usaha terhadap pengendalian hawa nafsu, hingga
sifat-sifat terpuji nampak menghiasi hatinya, walaupun di dalam dirinya masih
terlilit oleh perbuatan yang tercela.
5. Tari Klana
Kedhok yang
dipakai dhalang topeng dalam tari Topeng Klana, adalah cerminan dari jiwa yang
terjerumus ke dalam jurang kehancuran, tatkala mengarungi kehidupannya dalam
menjalankan perintah Allah yang menyangkut ajaran-ajaran agama mengenai
kewajiban dan larangan berkenaan dengan tindakan di dunia.
Kegagah perkasaan yang tergambar pada
kedhok Klana, tercermin pada kegagahan gerak tariannya yang merupakan
perwujudan dari bentuk-bentuk nafsu atau keadaan jiwa yang bergejolak di dalam
diri manusia.
Gejolak nafsu rendahnya yang penuh
dengan keserakahan, keangkuhan, kekejaman, kesombongan dan segala perilaku
serta perbuatan yang tidak terpuji, merebak keseluruh jiwanya untuk menguasai
kehidupan di dunia dengan kemunafikannya.
Hentakan tawa congkak nan angkuh,
memporak porandakan sendi-sendi keimanan, sehingga jiwanya hancur karena
cibiran senyum merekah, angkara murka.
Demikian sekelumit tentang tari Topeng
Cirebon. Semoga catatan ini bermanfaat bagi siapapun yang tersentuh untuk
mengetahui lebih dalam mengenai tari Topeng Cirebon khususnya, dan jenis-jenis
kesenian Cirebon pada umumnya. Semoga Allah meridhoi kita semua.
Amiin ...............................................
CIREBON, 2 SEPTEMBER 2010
HANDOYO MOKH YULI
HANDOYO MOKH YULI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar