Mari mengorek sedikit jejak sejarah Kerajaan Talaga dan keterkaitannya dengan Situ Sanghiang
(Kec. Talaga, Kab. Majalengka).
Menurut cerita para sesepuh Talaga, dulunya di Talaga ada sebuah kerajaan kecil bercorak Budha, kurang lebih pada abad ke XII. Dan menurut Naskah Sejarah/Babad Talaga sendiri, kerajaan ini terletak di sebelah Selatan Kaki Gunung Ciremai, berpusat di sekitar Situ Sanghiang (Samsuddin, 1975, 1-2). Kerajaan Talaga merupakan kerajaan bawahan dari Kerajaan Sunda yang berpusat di Kawali.
Kerajaan ini pertama kali di pimpin oleh Prabu Darmasuci, kemudian setelah wafat diberikan ke Putra keduanya yang bernama Prabu Talagamanggung (Darmasuci II) yang mencapai puncak kejayaan. Berdasarkan tradisi lisan, kebesaran Prabu digambarkan sebagai raja sakti yang tak bisa ditembus oleh senjata apapun. Saat Ratu Simbar Kancana (anak ke II Prabu) dinikahi oleh patih utama kepercayaan Prabu, yang bernama Sang Sakyawirya atau Palembanggunung. Lambat laun Karena ambisi kekuasaan Palembanggunung merencanakan pembunuhan Prabu lewat orang kepercayaannya yang bernama Citrasinga dan Centangbarang, yaitu orang yang mengetahui kelemahan sang Prabu. Akhirnya Prabu Talagamanggung ngahyang setelah terkena Cis (pusakanya sendiri), sementara keratonnya berubah menjadi Situ, yang dikenal sekarang sebagai Situ Sangiang atau Sanghyang.
Sepeninggal beliau tapuk kerajaan berpindah ke menantunya. Namun tak bertahan lama, penghianatan sang menantu tercium oleh sang Ratu Simbar (istrinya sendiri yang merupakan anak Prabu). Karena dendam setelah mengetahi hal tersebut, kemudian Palembanggunung dibunuh dengan tusuk konde milik sang Ratu Simbar, dan Citrasinga serta Centangbarang pun dihukum mati. Setelah itu kekuasaan berpindah kepada Sang Ratu Simbar yang kemudian menikah lagi dengan Raden Kusumalaya. Dari hasil perkawinan ini, terlahirlah delapan orang putra. Kemudian setelah kewafatan beliau (hyang), tapuk kepemimpinan diberikan kepada Sunan Parung (putra ketujuh Ratu).
Ada beberapa Peninggalan pusaka karuhun yang merupakan sisa peninggalan yang masih berkaitan, berupa mas kawin pernikahan Raden Ranggamantri dengan Ratu Sunyalarang (anak Sunan Parung), yang di bawa langsung dari Pajajaran, sekarang tersimpan di Museum Talagamanggung.
Catatan: Team Narada Culture Preservation (21/04).
Sumber tekait: Buku "Sejarah Kerajaan Talaga" Tulisan Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S dkk.2012. Penerbit Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia: Jawa Barat.
Wawancara dengan Mas Yanto salah satu perawat Situ Sanghiang.
(Kec. Talaga, Kab. Majalengka).
Menurut cerita para sesepuh Talaga, dulunya di Talaga ada sebuah kerajaan kecil bercorak Budha, kurang lebih pada abad ke XII. Dan menurut Naskah Sejarah/Babad Talaga sendiri, kerajaan ini terletak di sebelah Selatan Kaki Gunung Ciremai, berpusat di sekitar Situ Sanghiang (Samsuddin, 1975, 1-2). Kerajaan Talaga merupakan kerajaan bawahan dari Kerajaan Sunda yang berpusat di Kawali.
Kerajaan ini pertama kali di pimpin oleh Prabu Darmasuci, kemudian setelah wafat diberikan ke Putra keduanya yang bernama Prabu Talagamanggung (Darmasuci II) yang mencapai puncak kejayaan. Berdasarkan tradisi lisan, kebesaran Prabu digambarkan sebagai raja sakti yang tak bisa ditembus oleh senjata apapun. Saat Ratu Simbar Kancana (anak ke II Prabu) dinikahi oleh patih utama kepercayaan Prabu, yang bernama Sang Sakyawirya atau Palembanggunung. Lambat laun Karena ambisi kekuasaan Palembanggunung merencanakan pembunuhan Prabu lewat orang kepercayaannya yang bernama Citrasinga dan Centangbarang, yaitu orang yang mengetahui kelemahan sang Prabu. Akhirnya Prabu Talagamanggung ngahyang setelah terkena Cis (pusakanya sendiri), sementara keratonnya berubah menjadi Situ, yang dikenal sekarang sebagai Situ Sangiang atau Sanghyang.
Sepeninggal beliau tapuk kerajaan berpindah ke menantunya. Namun tak bertahan lama, penghianatan sang menantu tercium oleh sang Ratu Simbar (istrinya sendiri yang merupakan anak Prabu). Karena dendam setelah mengetahi hal tersebut, kemudian Palembanggunung dibunuh dengan tusuk konde milik sang Ratu Simbar, dan Citrasinga serta Centangbarang pun dihukum mati. Setelah itu kekuasaan berpindah kepada Sang Ratu Simbar yang kemudian menikah lagi dengan Raden Kusumalaya. Dari hasil perkawinan ini, terlahirlah delapan orang putra. Kemudian setelah kewafatan beliau (hyang), tapuk kepemimpinan diberikan kepada Sunan Parung (putra ketujuh Ratu).
Ada beberapa Peninggalan pusaka karuhun yang merupakan sisa peninggalan yang masih berkaitan, berupa mas kawin pernikahan Raden Ranggamantri dengan Ratu Sunyalarang (anak Sunan Parung), yang di bawa langsung dari Pajajaran, sekarang tersimpan di Museum Talagamanggung.
Catatan: Team Narada Culture Preservation (21/04).
Sumber tekait: Buku "Sejarah Kerajaan Talaga" Tulisan Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S dkk.2012. Penerbit Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia: Jawa Barat.
Wawancara dengan Mas Yanto salah satu perawat Situ Sanghiang.