Selasa, 21 April 2015

Sejarah Kerajaan TALAGA

Mari mengorek sedikit jejak sejarah Kerajaan Talaga dan keterkaitannya dengan Situ Sanghiang
(Kec. Talaga, Kab. Majalengka).






Menurut cerita para sesepuh Talaga, dulunya di Talaga ada sebuah kerajaan kecil bercorak Budha, kurang lebih pada abad ke XII. Dan menurut Naskah Sejarah/Babad Talaga sendiri, kerajaan ini terletak di sebelah Selatan Kaki Gunung Ciremai, berpusat di sekitar Situ Sanghiang (Samsuddin, 1975, 1-2). Kerajaan Talaga merupakan kerajaan bawahan dari Kerajaan Sunda yang berpusat di Kawali.
Kerajaan ini pertama kali di pimpin oleh Prabu Darmasuci, kemudian setelah wafat diberikan ke Putra keduanya yang bernama Prabu Talagamanggung (Darmasuci II) yang mencapai puncak kejayaan. Berdasarkan tradisi lisan, kebesaran Prabu digambarkan sebagai raja sakti yang tak bisa ditembus oleh senjata apapun. Saat Ratu Simbar Kancana (anak ke II Prabu) dinikahi oleh patih utama kepercayaan Prabu, yang bernama Sang Sakyawirya atau Palembanggunung. Lambat laun Karena ambisi kekuasaan Palembanggunung merencanakan pembunuhan Prabu lewat orang kepercayaannya yang bernama Citrasinga dan Centangbarang, yaitu orang yang mengetahui kelemahan sang Prabu. Akhirnya Prabu Talagamanggung ngahyang setelah terkena Cis (pusakanya sendiri), sementara keratonnya berubah menjadi Situ, yang dikenal sekarang sebagai Situ Sangiang atau Sanghyang.


Sepeninggal beliau tapuk kerajaan berpindah ke menantunya. Namun tak bertahan lama, penghianatan sang menantu tercium oleh sang Ratu Simbar (istrinya sendiri yang merupakan anak Prabu). Karena dendam setelah mengetahi hal tersebut, kemudian Palembanggunung dibunuh dengan tusuk konde milik sang Ratu Simbar, dan Citrasinga serta Centangbarang pun dihukum mati. Setelah itu kekuasaan berpindah kepada Sang Ratu Simbar yang kemudian menikah lagi dengan Raden Kusumalaya. Dari hasil perkawinan ini, terlahirlah delapan orang putra. Kemudian setelah kewafatan beliau (hyang), tapuk kepemimpinan diberikan kepada Sunan Parung (putra ketujuh Ratu).


Ada beberapa Peninggalan pusaka karuhun yang merupakan sisa peninggalan yang masih berkaitan, berupa mas kawin pernikahan Raden Ranggamantri dengan Ratu Sunyalarang (anak Sunan Parung), yang di bawa langsung dari Pajajaran, sekarang tersimpan di Museum Talagamanggung.

Catatan: Team Narada Culture Preservation (21/04).

Sumber tekait: Buku "Sejarah Kerajaan Talaga" Tulisan Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S dkk.2012. Penerbit Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia: Jawa Barat.
Wawancara dengan Mas Yanto salah satu perawat Situ Sanghiang.

Kamis, 16 April 2015

Perspektif Budaya Cegah Situasi Chaos Sejak Dini

Perspektif Budaya Cegah Situasi Chaos Sejak Dini
KUNINGAN, AKARPADINEWS.COM | DEWAN Kebudayaan Jawa Barat (DKJB) memandang, strategi kebudayaan merupakan persoalan mendasar yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan proses pembangunan ke depan.  Karena itu, pembangunan harus dipandang dari perspektif budaya yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Dalam Rapat Kerja DKJB yang digelar di sentra pemberdayaan budaya, Narada Art Galery – Sangkanhurip – Kuningan, Jawa Barat (17-18/2/15) dibahas berbagai aspek berkaitan dengan proses pembangunan di Jawa Barat dan Indonesia secara keseluruhan.  Terutama dalam menghadapi berbagai fakta brutal yang berkembang di tengah masyarakat di seluruh aspek kehidupan. Baik politik, hukum, ekonomi, sosial, religi, dan budaya itu sendiri.
Dalam konteks itu, DKJB akan menggelar rangkaian dialog yang melibat para pakar di bidangnya masing-masing, mulai awal Maret 2015 mendatang.
Rapat kerja yang dipimpin langsung oleh Ketua DKJB – Prof. Dr. Ir. Gandjar Kurnia, DEA., yang dihadiri sejumlah anggota: Iman Taufik, Yus Ruslan Ahmad, Yayat Hendayana, Jakob Sumardjo, Franky Raden, Miranda Risang Ayu, serta beberapa nara sumber: Memet Hamdan, Ubun Kobarsah, Etty R.S, Prof. Dede Mariana, dan lainnya. DKJB memandang perlunya dialog lintas sektor dan pakar, termasuk para praktisi kesenian untuk membangun kesamaan persepsi tentang dimensi budaya dalam keseluruhan aspek pembangunan. DKJB sendiri memusatkan perhatian pada dua aspek besar meliputi transformasi budaya dan pelestarian nilai budaya.
Yus Ruslan Ahmad, salah seorang anggota DKJB yang memimpin Komisi Transformasi Budaya mengemukakan, fakta-fakta brutal di tengah masyarakat yang bisa membawa bangsa ini ke arah situasi chaos secara budaya, harus dicegah sejak dini dengan membangun kembali harmoni sebagai ciri dan cara kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa di Indonesia.  Prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, menurutnya merupakan suatu konsep dasar kebudayaan Indonesia yang berkorelasi dengan nilai-nilai budaya Indonesia yang sangat beragam.
Beranjak dari berbagai pemikiran yang berkembang dalam rapat kerja tersebut, Yus mengemukakan, rangkaian dialog yang akan dilakukan DKJB akan mendudukkan kembali arah  dan visionering bangsa sesuai dengan perkembangan era, serta korelasinya dengan nilai-nilai global, perkembangan pengetahuan, dan teknologi.
Akan halnya Gandjar mengingatkan, DKJB sebagai institusi yang salah satu fungsinya menghimpun gagasan tentang perspektif budaya dalam keseluruhan konteks kehidupan masyarakat, bertugas menghimpun gagasan dari berbagai kalangan dan pakar tentang berbagai aspek kehidupan yang akan mendorong perkembangan dan kemajuan masyarakat.
Anggota DKJB Iman Taufik yang selama ini berkecimpun dalam dunia bisnis dan politik melihat, melalui berbagai dialog gagasan yang diwadahi, dimediasi, dan difasilitasi oleh DKJB, akan disasar pencapaian added value terkait dengan kualitas human development index (HDI) dan gini ratio masyarakat dan bangsa. Fokusnya, dalam pandangan Jakob Sumardjo adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan kualitas pengetahuan dan teknologi yang dimiliki bangsa ini.
Wakil Gubernur Jawa Barat H. Deddy Mizwar mengatakan, DKJB bukanlah dewan kesenian, melainkan dewan kebudayaan, dan karenanya membahas berbagai aspek pembangunan yang sedang dilaksanakan. Salah satu perhatian DKJB, menurut Gandjar adalah studi kebijakan, agar pemerintah, khasnya pemerintah provinsi Jawa Barat mempunyai policy design dengan perspektif budaya. Berbagai pemikiran dan gagasan yang dihasilkan seluruh stakeholders yang difasilitasi DKJB tidak hanya diperuntukkan bagi kepentingan pemerintah dan masyarakat Jawa Barat semata, melainkan lebih jauh dari itu, yakni sebagai kontribusi Jawa Barat terhadap Indonesia dan Nusantara.
Penghujung Raker digelar acara ramah tamah yang dihadiri oleh Wakil Gubernur jawa Barat, Bupati Cirebon, Bupati Kuningan, Sultan Kasepuhan Cirebon, dan Sultan Kacirebonan, serta sejumlah tokoh masyarakat dan budayawan dari Cirebon dan Kuningan.. | sem haesy
Editor : Web Administrator
 
disalin dari: http://www.akarpadinews.com/read/seni-budaya/perspektif-budaya-cegah-situasi-chaos-sejak-dini